I’ve just checked out my facebook and got many quizes offered on notification board. I usually ignore them all  since they’re like nothing but trash, to me. But then, there was one appealing to me, it was a ‘get to know yourself better’ quiz. I was interested since the first time I read the name of that quiz, then I just gave it try. I headed to http://www.quizbox.com/personality/test82.aspx, and here’s the result:

It may not 100% reflect my personality, but it may be about 90% ;p

Your view on yourself:

You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You are not looking merely for a girl/boyfriend – you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.

Your readiness to commit to a relationship:

You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love:

Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.

Your views on education

Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.

The right job for you:

You have plenty of dream jobs but have little chance of doing any of them if you don’t focus on something in particular. You need to choose something and go for it to be happy and achieve success.

How do you view success:

You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of:

You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It’s time for you to believe in who you are, not what you wear.

Who is your true self:

You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

0930414p

The King Bolkiah spent like Rp 247 million to have his hair cut

The King, who’s amongst the richest people in the world, invited his favorite barber, Ken Modestu, the one who’s looked after his hair for the last 16 years. The thing is that Modestu lives away in London, UK, while the King is in Brunei.

However, it wasn’t a big matter for the King. He just paid Modestu for the first class roundtrip flight from and to Brunei which values for 9,000 pounds (Rp 147 million). He also provided Modestu with first class accommodation in Brunei, transport, and yummy foods!! All Modestu needed to do was just to sign the agreement letter.

Having been satisfied with Modestu’s work, the King paid him for thousands pounds.

Regarding the H1N1 endemic in Southeast Asia, the King also provided Modestu with private cabin in the airplane so that he  wouldn’t blend together with other passengers. To get the private cabin, the King spent 11,000 pounds (Rp 180 million)!!

“Totally, the King’’s expenses for a hair cut could reach about 15,000 pounds (Rp 247 milllion)”, said Kadi, a journalist of The Sun.

Hey mates!

The ex-president of South Korea, Kim Dae Jung (KDJ) died at the age of 83 after being hospitalized for like a month due to his pneumonia. He was said to be dead on August 18, 2009 at 1.43pm Korean time.

For Koreans, KDJ is one of best presidents they ever have. He receieved a nobel prize in 2000 for his effort to repair his country’s relationship with North Korea despite ideological difference between the two countries. He is also known as a president who cared about democracy and human rights. During his leadership, the country had enjoyed significant development in terms of democracy, human rights and relations with the North. He was also a target of assassination and kidnapping by his political rival during his life. Through Korean National Inteligence Service, his political rival at that time, Park Chung-hee, had kidnapped and treated  him badly.

He’s gone forever, but his leadership and merits will be remembered by Koreans forever.

Good bye KDJ, have a nice everlasting rest!!

 

Perth, 6 Maret 2009

Dosenku

 

Setelah bercerita banyak tentang hidupku, rasanya aku juga perlu menceritakan tentang hal lain di sini kawan, kali ini tentang dosen-dosenku. Tahukah kalian kawan,,,semua dosenku sangat ramah dan sangat helpful. Ga percaya…..ni gue kasi tau…..

Pada kesempatan kali ini, aku ngambil 3 mata kuliah, yaitu: Media and Identity, Themes in Global Politics dan Japanese…so ada 3 dosen yang aku ceritakan di sini. Pertama adalah dosen untuk Media and Identity. Namanya Pia Lebeck…cantik kan namanya,,ya, secantik orangnya. Dosenku yang satu ini kalo diperhatikan dari fisiknya umurnya 35-40 an kawan…meski demikian dia masih keliatan cantik….dengan rambutnya yang lurus sebahu dan bola matanya yang berwarna kebiru-biruan itu menjadikannya terlihat menawan. Pakaiannya selalu rapi model pengusaha dan selalu memakai high hills,,cara mengajarnya sangat interaktif dan artikulatif, pronounciation bahasanya sangat jelas. Dia juga termasuk orang yang memperhatikan grammar saat sedang bicara. Dari sikap dan wajahnya,,dia keliatan memiliki rasa kasih sayang yang besar terhadap anak-anaknya..ya, dia pasti ibu yang baik (gubraa…k..sotoy bgt ni gue!!!). Di samping itu, mata kuliah ini juga dibantu oleh seorang tutor, namanya Katie. Kalau cewek yang satu ini, keliatannya lebih muda dari Pia. Dari penampilannya, ia termasuk orang yang gaul abis. Rambutnya cepak dan dicat warna pink dengan gaya harajuku,,,selain itu hidungnya ditindik. Saat ke kelas biasanya pakaiannya simpel saja,,kaos oblong dan celana jins. Meski demikian,,,kepintaran dan kompetensinya tidak kalah hebat dengan Pia. Dia adalah salah satu penulis buku terkenal di Aussie. Dengan semua itu, tidak ada alasan untuk merasa bersalah mengambil kelas ini bagiku….he,,he,,

Kedua adalah dosen untuk Themes in Global Politics., namanya Prof. Quentin Bernesford (sulit ni ngomongnya). Dosen ini,,kalo kugambarkan adalah Pia Lebeck versi cowoknya. Iya kawan, kalo Pia keliatan cantik.. Quentin keliatan tampan di saat rambutnya sudah mulai beruban. Dia juga selalu keliatan rapi di kelas. Kalo Pia sangat keliatan feminim,,,Quentin keliatan maskulin tanpa harus keliatan galak. Kalo ga salah,,,kata2 yang tepat untuk menggambarkannya adalah dia termasuk ‘pria flamboyan’ (tolong dikoreksi ya kalo salah,,,,he,,he,,). Dari cara bicara dan bercandanya saat berbicara dengan orang lain,,,rasa-rasanya sih dia ayah yang baik. Quentin benar-benar membantuku kawan…! Bagaimana tidak,, karena kesalah pahamanku dan kelas untuk mata kuliahnya sudah penuh, aku tidak bisa lagi mendaftar untuk mata kuliah ini lewat sistem online…tapi kawan,,karena aku memang orangnya NEKAT,,aku langsung saja contact dia lewat personal email untuk minta tolong…wha senengnya, bebrapa jam setelah mengirim email, dia membalas agar aku menemuinya ke officenya. Di officenya, aku diberi surat sakti untuk diproses ke student center….dengan surat itu, tahukah kawan, aku terdaftar resmi di kelasnya tanpa ada fine apapun… bahkan, kawan saat aku ke kantornya kami sempat ngobrol panjang lebar. Dia juga sudah tau nama panggilanku: KHOI. Selain itu, dia dengan senang hati menawarkan bantuan kalo aku kesulitan dalam membuat writing assignment-ku…..hoo..ho..senangnya…o ya, perlu kalian tau kawan, meski aku sudah pernah mengambil makul yang mirip dengan makul ini di UGM, makul ini kerasa beda banget disini (makanya aku ambil!!). Bagaimana tidak, disini aku benar2 tahu Australian perspective terhadap politk global. Salah satu perspektifnya yang aneh adalah: “US super power” dijadikan sebagai salah satu perspektif tersendiri dalam menganalisa politik global. Untuk lebih detail,,akan kugambarkan di crita lain kawan..

Ketiga adalah yang paling ramah dari semua yang kuceritkan sebelumnya. Dia adalah dosen bahasa Jepang…ya, dia dari Jepang namanya JUNKO Kawamura-san. Untuk bertemu dengan dosen ini aku pun juga nekat abis kawan…awalnya karena aku pernah belajar Nihongo di Indonesia dan biar ga kelupaan maka aku putuskan untuk ambil makul ini. Setelah welcoming day, aku langsung saja menemuinya dan menejelaskan ketertarikanku untuk belajar bahsa Jepang,,tanpa kuduga dia minta aku untuk menemuinya di office stelah break…ternyata dia mau meminjamkan buku wajib mata kuliah bahasa Jepang ini. Taukah kalian kawan,,,klao beli buku itu harganya kalo dirupiahkan sekitar 1,8-2 juta…..freaaaak!!!! untung saja,,aku dikasih pinjam,,,,,,alhamdulillah. Tapi emang kita agak curang si kawan..soalnya aku ga boleh ngomong ama temen2 sekelas lainnya…he..he…

Dengan begitu,,,aku sangat semangat kuliah kawan…..doakan suskes ya…..ganbatte ne!!!

 

Susahnya Cari Part-time Job

 

Kawan, cari part-time job dengan kerja yang tidak melelahkan tapi gajinya banyak ternyata tidak mudah ya…. Apalagi di Perth yang terkenal sebagai salah satu kota pendidikan di Australia, hanya orang-orang yang benar-benar berkompetensilah yang mampu bersaing, hanya mereka yang memiliki keterampilanlah yang bakal bisa bertahan hidup….ho..ho… Yang menyedihkan teman,,kebanyakan orang Indo yang part-time di sini kerjanya di bagian kasar, cleaning service, angkat ini angkat itu, dsb. Sedangkan kerja yang lebih enak biasanya diembat oleh mahasiswa India atau lokal. Bukannya diskriminasi kawan, tapi memang mereka berkompetensi si…

Sudah sekitar 2 minggu ini aku apply sana apply sini tapi belum dapat panggilan juga. Pertama kalinya, aku apply Sizzler Restaurant dibagian customer service dan ternyata hasilnya nihil. Kedua, aku apply jadi shelver di perpustakaan kampusku. Eh, ga keterima juga. Ketiga, aku nglamar di Noodle Box sebagai cashier,,,uuggghhh ga keterima juga. Kampret abis…!!! Usut punya usut, setelah ku cek lagi lowongan kerjanya semuanya menerangkan “work experience will be consideration”. Tapi karena aku bukan orang yang mudah putus asa, makanya aku masih tetap hunting kerjaan sampai sekarang. Karena kebetulan aku punya teman Malaysia yang kerja part-time di Donut Kings aku tanya2 ama dia. Dan dia menyarankan aku untuk mengubah total CV-ku…iya kawan,,,ternyata CV-ku keliatan serius banget. Makanya hal pertama yang kuubah adalah fotoku…fotoku di CV yang awalnya keliatan serem pake formal attire lengkap kuganti dengan fotoku waktu di Fish and Chip yang keliatan ‘cool’ abis (jangan ngiri kawan,,emang udah dari sononya..^-^). Terus abis itu temanku menyarankan untuk membubuhkan pengalaman kerja di CV. Iya teman, jadinya aku nekat untuk sedikit berbohong di Cvku. Kegiatan volunteerku di Pusat Studi Jepang UGM kutulis jadi Public Relations Staff of Center for Japanese Studies UGM he,,,he,,,Parahnya aku juga nulis pernah kerja jadi waiter di Restoran Bakpia 76 Yogyakarta (padahal ga tau apakah Bakpia 76 itu ada. Ga??..ha..ha…)x-x

Akhirnya di hari Selasa yang cerah, dengan ditemani oleh teman Malaysiaku itu,,,aku bertekad untuk nekat ke toko-toko dan restoran tanpa nunggu lowongan. Ya kawan, aku dengan PD-nya akan bertanya ke toko-toko ‘is there any vacancy’ …freak!!! Di pagi hari yang hangat itu, kami pergi ke Morley yang dapat ditempuh selama 10 menitan dari tempatku tinggal dengan bus. Tempat pertama yang kutuju adalah toko buku. Sudah berkeliling ke beberapa toko buku, ternyata sama sekali ga ada lowongan buat part-timer…hampir semua toko buku membutuhkan full timer…di saat aku setengah putus asa, akhirnya kupaksakan kakiku melangkah ke sebuah toko dengan nama Australian Geographic Shop. Toko ini menjual berbagai macam buku dan alat-alat berhubungan dengan geografi. Eh ternyata di situ ada lowongan buat part-timer. Akhirnya 1 CV telah berkurang dari cengkeraman tanganku. Setelah itu, tanpa kuduga di beberapa toko dan restoran berikutnya ada lowongan. Yang terakhir adalah KFC. Karena dari namanya yang sudah terkenal, aku nekat saja nglamar di restoran kelas kakap itu…he,,he,,

Sekarang yang kulakukan adalah menunggu dan menunggu sembari berdoa agar lamaranku keterima…….minggu depan akan menjadi hari-hari yang mendebarkan bagiku karena bakal ketahuan apakah aku keterima apa ga….tahukah kawan,,,rasa-rasanya tidak kalah grogi dengan saat menjadi finalis American Idol (emang pernah….???!!!). Wish me luck….^-^

 

This is email from Eleanor Rivers, a coordinator of Peace Scholarship Program:
Dear Alumni,
Hope you are all well!
Please distribute among all your contacts the attached information regarding the last ever Peace Scholarship Program for Indonesia. Applications close in just over two weeks (kejar waktu nih sebelum aku off on maternity leave) so please distribute as quickly and widely as possible!
Thank you!
ELEANOR
.ExternalClass .EC_bold {font-weight:bold;color:#6b6a6f;line-height:normal;font-style:normal;font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;} .ExternalClass .EC_notice {font-weight:normal;font-size:11px;color:#6b6a6f;line-height:normal;font-style:normal;font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;} .ExternalClass .EC_signature {font-weight:normal;font-size:12px;color:#6b6a6f;line-height:normal;font-style:normal;font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;} .ExternalClass #EC_signatureText {padding-right:0pt;padding-left:3pt;padding-bottom:0pt;padding-top:0pt;} .ExternalClass .EC_signature A:link {color:#6b6a6f;text-decoration:none;} .ExternalClass .EC_signature A:active {color:#6b6a6f;text-decoration:none;} .ExternalClass .EC_signature A:visited {color:#6b6a6f;text-decoration:none;} .ExternalClass .EC_signature A:hover {color:#6b6a6f;text-decoration:underline;} .ExternalClass TD STRONG {font-weight:bold;color:#6b6a6f;line-height:normal;font-style:normal;font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;}

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

The Beauty of Australian Manners

Perth, 1 Maret 2009

Lebih dari 2 minggu sudah aku berada di negeri Kanguru ini. Kini aku merasa telah dapat menikmati kehidupan baruku di sini. Aku mulai dapat menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Tubuhku mulai terbiasa dengan panasnya terik matahari di summer time ini, aku juga sudah mulai hafal gedung-gedung di kampusku, aku mulai merasa nyaman dengan metode kuliah di sini, aku mulai hafal rute-rute bus dari kampus ke beberapa tempat wisata,,,,,tapi parahnya aku juga mulai terbiasa untuk mandi sekali sehari..he…he….Tidak ada yang perlu kurisaukan lagi, kecuali memanfaatkan semua ini untuk meng-upgrade kompetensiku.

Kemunculan rasa nyaman ini mungkin tidak lain dari atmosfer hangat di rumahku. Hari ini aku benar-benar bisa merasakan betapa aku dan housemateku bisa menjadi sebuah keluarga yang harmonis. Betapa pemahaman dan rasa saling menghargai itu benar-benara ada dalam rumah ini. Betapa housematesku bersikap ramah terhadapku. Tahukah kawan, hal ini mulai menghapuskan prejudice awalku bahwa mungkin superioritas bangsa kulit putih itu masih ada. Satu hal kecil yang mengubah pikiranku itu adalah mengenai sikap yang ditunjukkan oleh housematesku dan temannya (orang asli Aussie) terhadapku malam ini. Ya, seperti biasa aku di kamar menelentangkan tubuh di atas kasur empukku sambil membaca buku-buku mata kuliah atau sesekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi ternyata semua itu justru membuatku semakin suntuk. Di saat yang bersamaan, teman-teman buleku itu sedang asyik ngobrol dengan temannya yang tinggal tidak jauh dari student village. Karena benar-benar merasa suntuk aku pergi ke unit teman Malaysiaku yang hanya beberapa langkah jauhnya dari unitku. Setelah aku panggil beberapa kali, tidak satu orang-pun yang menyahut. Kelihatannya dia memang tidak ada di rumah. Akhirnya aku balik ke unitku. Sesampainya di ruang tamu (di samping ruang makan), dengan ramah teman housemateku berbasa-basi menyapaku. Kemudian aku pun ikut gabung dalam perbincangan mereka. Tidak banyak hal berbeda yang diperbincangkan mereka dibanding dengan perbincangan orang Indonesia di waktu santai,,,kawan. Kita hanya berbincang hal-hal yang tidak penting, mengejek satu sama lain, berbincang-bincang tentang hewan Australia, penyanyi Australia dan sebagainya. Tapi dalam hangatnya perbincangan itu, aku menemukan betapa kultur orang para bule itu sebenarnya tidak banyak berbeda dengan orang Asia. Saat aku datang untuk ikut bercakap-cakap, housemateku yang orang AS mengambilkan kursi untukku, sedangkan housemate Aussieku mengambilkanku sepotong cake yang baru saja dibuatnya. Sambil menikmati cake yang enak itu aku mendengarkan dan sesekali terlibat dalam perbincangan mereka dengan diselingi tertawa ringan. Benar-benar malam ini aku merasakan rasa kekeluargaan mulai muncul di antara kami.

Entah kenapa, kejadian tersebut secara tiba-tiba membuat otakku berpikir ke belakang tentang sikap orang Australia terhadapku pada saat awal kedatanganku. Setelah kupikir-pikir, ternyata hanya ada satu kesimpulanku bahwa mereka memiliki budi pekerti luhur dan berjiwa Pancasila…..(ha..ha…ha..). Aku mulai ingat bahwa saat pertama aku naik bus dan belum memiliki smart card, aku digratiskan oleh sopirnya. Ternyata hal serupa juga dialami oleh temanku saat ia baru pertama kali datang di Adelaide….benar-benar awesome..Saat orang-orang Aussie itu turun dari bus, ternyata mereka tidak pernah lupa mengucapkan ‘thank you’ sambil sesekali melirik ke arah sopir bus. Saat berjalan dan secara tidak sengaja hampir menabrakku, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan ’sorry’. Entah berapa kali orang-orang Aussie mengucapkan kedua kata itu setiap harinya. Menurutku hal ini merupakan pengamalan Pancasila sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab. Coba kawan,,,sekarang kalian pikir apakah kalian pernah mengucapkan terimakasih pada sopir bus yang kalian tumpangi saat pergi ke luar?? Apa kalian mengucapkan maaf atau malah marah-marah saat tidak sengaja hampir menabrak orang karena sedang tergesa-gesa?? Hal lain yang kualami adalah saat aku sedang ingin membeli converter adaptor di sebuah toko di Murray St. Melihat harganya…woww mahal nian. Akhirnya aku bertanya, “excuse me, is there any cheaper one?”….tanpa basi-basi pelayan toko itu justru mengatakan “aaa,,,I think you can try to go to Dick Smith”….dengan bingung aku menjawab….”mmm..Dick Smith??”…dengan penuh kesabaran pelayan toko itu menjelaskan dengan gamblang “y, the electronic store across the road”…………gila….aaa.. alih-alih ngomel-ngomel seperti kebanyakan pedagang Indonesia, dia malah ngasih tau alternatif lain biar dapat barang yang lebih murah….awesome….

ya kawan, semua itu benara-benar menunjukkanku bahwa bule-bule Australia ternyata tidak kalah ramahnya dengan orang-orang Indo. Tidak cuma ramah, tapi juga berbudi pekerti luhur, rajin menabung, gemar menolong dan cinta sesama….pramuka bnaget deh pokonya!!!!

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Kisah Hidup di Negeri Seberang (3)

Perth, 28 Februari 2009

A Bloody Cooking………!!!!! Wortel Sialan Beli di Warung Cina

Setelah kurang lebih 2 minggu aku tidak menyentuh atau bahkan makan nasi, aku merasakan bahwa perut Indonesiaku ini berontak untuk makan nasi! Ya, sudah 2 minggu tepatnya lebih 2 hari,,aku sama sekali tidak pernah makan nasi. Makanan harianku hanyalah seputar sandwich, lasagne, donat, spagetti dan sebagainya. Kerinduanku pada masakan Indonesia pun tak tertahankan lagi, apalagi kerinduanku terhadap sayur asam. Akhirnya, ketika pak Aris (dosen UMY yang kerja dan kuliah di sini) menawarkan untuk meminjamkan rice cooker-nya yang tidak terpakai, tanpa pikir panjang aku mengatakan ‘ya’.

Hari Jumat, 27 Februari 2009 aku bersama dengan salah satu anak UMY yang sedang melanjutkan studi S2-nya di kampus yang sama denganku pergi ke rumah pak Aris di daerah Benley. Karena hari itu hari Jumat, aku pergi sholat Jumat dulu di city mosque. Karena aku datang agak telat, masjid-pun sudah penuh sesak. Aku mendapatkan tempat di luar masjid…gila,,panas banget!!! Bahkan orang Mesir di sampingku Jumatan memakai sunglasses,,,,sedangkan aku membiarkan kulitku terbakar panas matahari dengan suhu mencapai 35-40 derajat celcius karena memang lapisan ozon di bumi Perth telah banyak yang bocor.

Selesai Jumatan aku belanja dulu. Rencana awalku adalah aku ingin belanja sayur-sayuran untuk masak sayur asam. Karena aku sama sekali tidak bisa masak, sebelumnya aku telah tanya-tanya kepada kakak perempuanku di Indonesia tentang bumbu, bahan dan cara masak sayur asam. Untuk menghemat pengeluaran, aku tentukan pilihanku untuk belanja di daerah Chinatown karena memang belanja bumbu-bumbu, sayuran dan buah-buahan lebih murah di daerah ini daripada belanja di supermarket di city. Di daerah ini terdapat banyak sekali toko-toko yang kebanyakan pemiliknya adalah orang Cina atau Korea. Setelah berjalan selama beberapa menit dari city, akhirnya aku dan temanku singgah di salah satu toko milik orang Cina. Aku segera mengecek list belanjaku untuk bikin sayur asam. Tapi ternyata, bahan-bahan untuk membuat sayur asam kesukaanku tidak bisa kutemukan secara lengkap di toko Cina ini, apalagi kalau aku ke supermarket. Ya, akhirnya aku mengubah rencanaku. Aku membeli empat ikat sawi yang kelihatan segar dan enam buah wortel yang besar dan segar-segar. Benar-benar menyenangkan. Kalau saja wortel itu buah apel, ingin kumakan wortel itu mentah-mentah. Selain itu, tentu saja aku beli beras, bumbu-bumbu dan beberapa kebutuhan lainnya. Ok, belanjapun selesai.

Selesai belanja, aku dan temanku segera pergi ke rumah pak Aris untuk mengambil rice cooker. Uuuihhh ternyata rice cookernya besar sangat..berat juga….wah,,wah,,,aku pulang dengan membawa barang belanjaannku yang memang sudah berat ditambah lagi dengan rice cooker yang berat sangat. Seakan-akan barang bawaaanku melebihi berat badanku (leeebaaai..). Uuuggghhh setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya aku sampai juga di rumah pada jam 9 malam. Aku langsung saja tidur karena tidak kuat lagi menahan lelah yang menimpa tubuhku sambil memimpikan eksperimen pertama masakku keesokan harinya.

Hari sabtu, 28 Februari 2009……hari cukup cerah dan semangatku untuk masak bahan yang telah kubeli tidka terkendali lagi. Pertama aku langsung masak nasi dengan rice cooker tua yang kupinjam dari Pak Arif. Tahukah kawan, tenyata beras jasmine yang kubeli dari toko cina kemarin ketinggalan, akhirnya aku masak beras jepang yang sebenarnya ingin kugunakan untuk membuat sushi…sambil menunggu matangnya nasi, aku memotong sawi dan meracik bumbu-bumbu. Kemudian aku menguliti wortel yang sangat besar dan segar-segar. Saat aku ingin memotongnya,,ternyata wortelnya keras sekali. Sangat sulit untuk dipotong. Akhirnya tanpa kusadari, jariku kena pisau daging yang kugunakan untuk memotong wortel itu. Perlu kalian ketahui teman, pisau daging itu dibeli oleh teman Swediaku dengan harga sekitar AU $10…kalua dirupiahkan mungkin sekitar 80 ribu…tajam nian…akhirnya hari itu I really did a bloody cooking!!! benar-benar wortel sialan…!!!! karena aku sudah lumayan frustasi wortel itu kupotong dengan bentuk yang bermacam. Ada yang kotak, ada bentuknya persegi tidak beraturan dan sebagainya. Aku juga meminta tolong housemateku yang dari Thailand untuk membantu mengupas bawang (perlu kalian ketahui kawan,,,,aku masak jam 9 pagi dan smua housemateku masih pada ngorok, kecuali yang dari Thailand…intinya aku pengen ngomong kalo orang Asia itu rajin bangun pagi…he..he…!!!). Akhirnya dengan segala tragedi itu, aku menghasilkan masakan yang rasanya cukup lumayan..kawan!! …..Hurraay……!!!! I really did cooking at the moment!!

ini dia masakan yang kuhasilkan…

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Kisah Hidup di Negeri Seberang….(2)

Perth, 21 Februari 2009

Arti Kebebasan di Australia

Kawan, lagi-lagi aku menulis kisahku di negeri tetangga ini…tetangga yang dekat tapi jauh..(dekat secara geografis, tapi jauh secara politis). Ok, kenapa lagi-lagi menulis??? Karena memang sekarang aku lagi nganggur. Ya,,beberapa hari ini kuhabiskan waktu malamku sendirian di kamar sambil menulis apapun yang ingin kutulis di tengah berisiknya suara anak-anak bule menikmati waktu malamnya, entah itu dengan sebotol wine atau sekadar bercanda belaka. Okay, terlepas dari semua itu, aku ingin menceritakan bagaimana kebebasan itu diartikan di sini, di Australia.

Tahukah kalian, bahwa tempatku hidup sekarang, Perth, adalah salah satu kota teraman di seluruh dunia dan salah satu kota dengan standar hidup yang tinggi di dunia. Ya, apa yang akan kuceritakan adalah apa yang kualami di sini..tapi hal ini bisa merefleksikan Australia secara keseluruhan entah di negara bagian manapun. Kawan, kalian semua tentu tahu bahwa Australia adalah negeri yang mengakui hak bagi semua golongan. Australia mengklaim dirinya sebagai negeri multikultural yang mengakui persamaan (equality) dari semua golongan. Australia memberi tempat bagi kaum Yahudi ataupun muslim. Australia juga mengakui hak bagi kaum homoseksual untuk menikah secara legal. Kawan, percayalah kalian tidak akan benar-benar bisa merasakan bagaimana rakyat Australia mengekspresikan kebebasan jika kalian tidak melihatnya dan merasakannya secara langsung.

Terlalu banyak hal yang bisa dijadikan gambaran mengenai bagaimana Australia mengartikan kebebasan. Namun, akan kuberi gambaran kebebasan Australia lewat kehidupan di kampusku kawan, Edith Cowan University (ECU). Saat ini adalah summer time di Australia. Suhu di atas permukaan bumi Perth bisa mencapai 40⁰ C. Meski demikian, suhu yang demikian panas ini tidak terasa sangat panas di ubun-ubun karena dibarengi dengan semilirnya angin di kawasan ini. Tapi kawan, kalau kalian tidak memakai sunscreen..yakinlah kalian akan melihat betapa kulit kalian berubah sesampai di rumah. Musim summer, bisa kugambarkan sebagai musim orang-orang Aussie mengumbar aurat, kawan…para mahasiswi ke kampus dengan memakai hot pants dan atasan topless. Perlu kalian ketahui, pakaian seperti ini adalah pakaian yang wajar, sehingga tidak dilarang untuk dipakai meski ke sekolah atau kampus. Di kampusku, tidak akan pernah bisa dihindarkan ‘pemandangan’ semacam itu. Tapi di sisi lain, kadang aku menjumpai beberapa perempuan entah itu dari Asia ataupun Timur Tengah memakai pakaian terbungkus rapi dengan jilbab yang menghiasi kepalanya. Dari sini, tentu kalian sudah bisa melihat, bagaimana kebebasan diartikan di sini. Di Australia, kalian bebas untuk memakai pakaian minim sekalipun, tetapi Australia juga tidak pernah melarang para muslimah untuk tetap mengenakan jilbabnya. Bahkan kalau kalian mau, kalian diperbolehkan untuk mengenakan pakaian tradisional lengkap disertai dengkan peralatannya saat ke kampus….ha,,,ha,,,J

Hal lain yang sangat mencerminkan kebebasan kutemukan dan kurasakan saat welcoming day beberapa waktu lalu. Pada saat itu digelar konser salah satu grup band kampus dengan beberapa stand yang meramaikannya. Jika kegiatan seperti ini dipenuhi oleh stand-stand kegiatan mahasiswa adalah hal yang sangat wajar. Tapi di sini, stand-stand ini tidak hanya dipenuhi oleh stand-stand UKM, tetapi juga stand-stand night club. Tahukah kalian,,aku mendapatkan undangan untuk gabung di salah satu night club saat berkeliling melihat-lihat stand. Tapi tidak hanya itu, stand-stand kegiatan religius juga meramaikan acara welcoming day. Jangan kaget….aku mendapatkan somekind of bible, aku juga kurang tahu pasti, tapi semacam perjanjian baru gitu,,,,ya, aku terima saja sambil tersenyum. Dari sini juga bisa kalian lihat kawan, bahwa kampus-kampus di Aussie sangat memberikan kebebasan bagi para mahasiswanya. Entah kalian ingin menjadi mahasiswa yang study-oriented, hobi pergi ke night club, atau menjadi mahasiswa yang sangat religius sekalipun..tidak akan dilarang. Yang dituntut oleh kampus hanya satu….kalian harus profesional!!! Entah kalian lebih suka menghabiskan malam kalian ke night club, belajar, ngaji atau pergi ke gereja, yang penting kalian bisa mendapat hasil yang memuaskan di kampus…kalo bisa highest distinction! Di sini aku benar-benar merasakan keunikan Austalia. Betapa tidak, Australia benar-benar terbuka bagi siapapun. Ia memberikan ruang dan kesempatan bagi semua pihak untuk tumbuh dan berkembang, termasuk komunitas muslim. Di kampusku, ECU menyediakan wadah tersendiri bagi komunitas muslim dan menyediakan mushola. Tapi, rasa-rasanya komunitas muslim di kampus ini kurang bisa memanfaatkan kesempatan itu secara okaay..bagaimana tidak, hingga saat ini saja mushola kampus dikunci rapat-rapat tidak ada pengurusnya. Setiap aku berusaha untuk menghubungi ketua komunitas muslim, entah itu melalui email atau HP kurang ada respon positif, kawan..??!!

Oleh karena bebasnya Australia,, kita memang harus sangat selektif ketika hidup di negeri ini. Satu hal yang pasti, percayalah kawan,, kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang di sini jika kalian melihat segala sesuatunya hanya dari kacamata kalian sendiri. Semua harus dillihat secara obyektif dan positif. Tahukah kawan,,mengetahui betapa uniknya Australia, maka jauh hari sebelumnya aku sudah merencanakan untuk mengetahui lebih banyak mengenai komunitas yahudi, aborigin dan muslim di sini. Ookaaaay,,wish me luck here!

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Kisah Hidup di Negeri Seberang….(1)

Perth, 21 Februari 2009

Tidak mudah hidup di negeri orang, kawan! Apalagi kalau negeri tersebut jauh berbeda dari negeri asal kita. Aku harap apa yang kurasakan dan kupikirkan ini hanyalah suatu proses adjustment atas segala sesuatu yang baru. Hidup di negeri Kanguru ini, benar-benar berbeda dengan hidup di tanah air tercinta, Indonesia! Terlalu banyak perbedaan yang ada, meskipun masih bisa ditemui beberapa persamaan. Aku tidak begitu paham apa yang sedang kualami saat ini. Hampir 2 minggu di Australia aku belum tahu pasti perasaanku terhadap negeri ini. Entahlah, kadang aku merasa sangat antusias dan menikmati hidup disini dengan teman-teman baru, tapi kadang aku merasa muak dengan keadaan disini dan merindukan segala sesuatu yang ada di homeland (termasuk kalian kawan!! He..he..).

Beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Aussie yang ada dalam diriku hanyalah rasa menggebu-gebu untuk segera menikmati kehidupan di negeri Kevin Rudd ini. Tujuannya sangat jelas untuk membuka cakrawala sambil menelusuri dunia. Namun, beberapa jam menjelang penerbangan pesawat yang akan kutumpangi justru muncul rasa grogi dalam diri ini. Cemas akankah ada kejutan-kejutan besar di negeri nan kaya ini. Begitu pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Internasional Sydney, perasaan cemas itu musnah. Saat itu antusiasmeku untuk menelusuri negeri ini bangkit lagi. Di Sydney, aku tinggal di Pensionne Hotel di Chinatown. Aku merasa betah menikmati atmosfer kota nan cantik jelita itu. Tidak henti-hentinya kulihati katedral dengan arsitektur menawan di dekat hotel tempatku menginap. Di Chinatown, banyak kutemukan orang-orang Asia terutama dari Cina, India dan Malaysia. Bahkan di tempat yang hanya beberapa kilometer dari pusat kota ini, kebanyakan kegiatan bisnis didominasi oleh bangsa Asia terutama Cina. Seusai acara orientasi beasiswa, aku langsung terbang menuju Perth.

Sesampai di Perth, beberapa perbedaan besar mulai kutemukan dan kurasakan. Kalau di Sydney banyak sekali kerumunanan orang mondar mandir berjalan di kota, di Perth dapat dikatakan cukup sepi. Maklum saja, daerah Western Australia yang sangat luas ini hanya ditempati oleh sekitar 1,3 juta orang. Pemandangan lain yang berbeda adalah di sini, di Perth, segala sesuatunya masih didominasi oleh bule-bule asli Australia. Melihat perbedaan ini pikiranku masih tetap positif. Aku berpikir bahwa mungkin disinilah benar-benar bisa kurasakan kehidupan Australia yang sebenarnya. Perasaan itu mulai berubah ketika aku tiba di penginapan sementara di Youth Hostel Agency (YHA) Perth. Aku menginap di tempat itu semalam karena kebetulan aku tiba di Perth malam hari, sedangkan waktu check-in di student village (tempat aku tinggal sekarang) dari pagi-sore. Setibanya di YHA, aku sudah merasakan hawa kurang nyaman. Pertama mengenai resepsionis yang kapitalis abis!! Karena kebetulan aku butuh untuk ngeprint untuk acara orientasi kampus di pagi harinya, maka aku terpaksa ngeprint di YHA. Sambil check-in kamar, aku tanya ke resepsionis “hallo, could I print something here?”. Dengan ramah, dia menjawab “y sure, your USB please.”. Kuserahkan USB-ku…eh saat dia nyolokin ke komputer dia nyeloteh “sorry,it can’t be opened here..could you please go to computer longue upstair and open your doc. there?”…karena aku butuh segera, aku bilang ‘okaay!’. Eh sial betul,,ternyata dia langsung ngeprint receipt…$2. Ternyata itu receipt buat ngenet 30 menit trus buat ngeprint satu lembar dihargai 75 sen..freak!! Jadi si resepsionis tadi Cuma pura-pura komputernya rusak, padahal sebenarnya USB kebuka pake komputer itu..sial bener! Coba kalo komputernya ga dihalangi oleh meja resepsionis!!!

Kedua mengenai roommate yang ga ramah abis. Ga tahu dia orang AS ato Aussie, tapi dari tampang dan bahasanya kayaknya orang AS. Kebetulan aku emang pesan kamarnya yang share sama 6 orang biar ngirit. Waktu aku buka pintu kamar, ternyata kamarku sudah lumayan penuh. Ada banyak barang para backpacker cuma aku ga tahu tempat tidur mereka dimana soalnya berantakan banget. Nah, karena waktu itu cuma ada bule tua yang ga ramah itu, aku tanya dia sambil menunjuk salah satu tempat tidur yang kelihatannya masih kosong ‘excuse me, is it occupied?’. Ga sopan banget dia jawab pake bahasa ga genah yang ga bisa kutirukan dengan utuh,,,,tapi intinya dia jawab dengan sedikit ngomel yang kurang lebih kalo di-Indonesiakan menjadi ‘liat aja sendiri!! Kalo ga ada barangnya ya berarti ga ditempati, kalo ada ya berarti ditempati. Ganggu saja!’ . terus dia langsung keluar kamar sambil men’jebleskan’ pintu….FREAK!!!!! gila, udah capek2 dari Sydney ke Perth selama kurang lebih 6 jam, ketemu sama resepsionis kapitalis,,,eh masih ketemu sama bule sialan itu….uuuuuggghhh…..

Akhirnya keesokan harinya aku buru-buru aja check-out dari penginapan itu…waktu aku check-out bule sialan itu masih tertidur pules..pengen banget guwe jitak kepalanya yang botak biar dia tau rasa!!!!ato guwe tendang pake jurus taekwondo-nya sabeum Isa….!!!!

Alhamdulillah rasa penat di penginapan itu terobati dengan jemputan dari ECU (Edith Cowan University) Student Village yang tepat waktu, orang yang jemput juga ramah nian…mobilnya juga nyaman tenan…..asik deh pokoknya. Kalo bule yang satu ini..nyambung kalo diajak ngobrol and tau etika gitu deh…he..he…O iya,,sebelumnya biar kujelaskan dulu student village itu apa kawan…biar kalian ga blo’on-blo’on amat baca cerita ini…..hua..ha…ha..ha…

Bagi mahasiswa yang belajar di Aussie, ada tiga pilihan umum untuk akomodasi, yaitu: 1) tinggal di hostfamily yaitu tinggal sama keluarga asli Aussie,,,biasanya harga sewanya mencapai $230-300 per minggu; 2) tinggal di luar kampus (off-campus housing) kalo di Indonesia kayak kos-kos an. Biayanya bervariasi, bisa lebih murah dari on-campus housing bisa juga lebih mahal. Biasanya antara $110-300 per minggu; 3) on-campus housing (student village)..nah ini kayak asrama kampus..biasanya rata2 sekarang $140 per minggu…kebanyakan orang Indo di Perth pilih tinggal di tempat sanak keluarga ato nge-kos bareng sama orang Indo lainnya…ato kadang ngontrak..nah pilihanku tinggal di student village..karena aku pikir di student village aku bisa berinteraksi banyak dengan para mahasiswa lokal dan internasional towards global peace..he..he..

Waktu sampai di student village, aku langsung diantar ke house-ku dan private roomku (untuk diketahui, di Aussie tidak diizinkan kalo sekamar dihuni oleh lebih dari 1 orang…wah berarti kalo PPSDMS di Aussie ga diizinkan ni….??!!!). Waktu aku sampai di house-ku ada dua perempuan bule dengan ramah menyambutku…yang satu dari Aussie dan satunya lagi dari AS. Mereka kelihatan sudah mulai akrab satu sama lain. Eh, ternyata mereka house-mateku…jadi ternyata dalam satu rumah dihuni oleh cowok dan cewek (ini tidak tertera di brosurnya….jadi awalnya kukira 1 rumah co semua ato ce semua seperti biasanya),,untuk house-ku dihuni oleh 3cowok dan 3cewek. O ya,, housemateku yang lain 2 cowok dari Swedia sama Malaysia dan 1 cewek dari Thailand. Pertama kali di house-ku aku merasa nyaman…karena housemates ku ramah2…apalagi yang cewek dari Aussie dan AS, mereka sering bantu. Karena aku datang telat, aku blum dapat bantal, sprei, selimut, dsb. Cewek dari Aussie bergegas minjemin punya temannya yang nganggur buatku. Waktu aku butuh ngecek email buat liat kapan beasiswaku turun, cewek yang dari AS minjemin aku laptop buat internet. Housemates ku lainnya juga baik-baik. Tapi, beberapa kesulitan kadang kudahadapi kawan….ok, ada tiga hal utama. Yaitu bahasa (slang), lifestyle dan sikap.

Meskipun aku bisa nyambung kalo ngomong2 sama anak-anak Aussie ato dari negara native speakers lainnya di student village,,,,tetap saja seringkali aku ga paham banyak hal. Bahasa yang kupelajari di bangku sekolah di Indonesia tidak lain adalah bahasa untuk kuliah saja,,karena pada kenyataannya para pemuda disini menggunakan bahasa2 gaul dengan pengucapannya yang sangat cepat…secepat kilat..(lebai…) sehingga seringkali aku tak paham. Jadi kadang, saat teman Aussie sudah ketemu temannya…aku seakan-akan dikacangin…..menyedihkan!!

Perbedaan lainnya adalah lifestyle….terus terang aku masih sulit adaptasi untuk hal ini. Kebanyakan orang-orang Aussie, AS, Eropa (pokkonya yang bule-bule) pada suka party. Hampir tiap malam party. Apalagi waktu valentine…gila!!aku tersiksa abis…party ampe jam 2 pagi,,,,karena pada dasarnya aku emang ga suka party,,,aku Cuma nongol sesekali iseng-iseng ngobrol terus ngibrit ke private room. Ternyata, bukan Cuma aku…karena kalo kuperhatikan ternyata orang-orang dari Cina, Jepang, Singapura dan bangsa Asia lainnya di student village lebih suka tidur lebih awal dan bangun lebih awal daripada party ga genah.

Mengenai sikap….ini yang seringkali membuatku tidak nyaman. Meskipun di asrama sudah lumayan sering ngobrol dan bertegur sapa, tapi ketika ketemu di kampus ato di jalan,,orang2 kulit putih itu terkesan cuek abis..bahkan ketika diberi senyuman sekalipun…seakan-akan mereka belum mengenalku. Hal ini ternyata juga dialami oleh teman-teman dari negera Asia lainnya.

Aku tidak tahu apa yang kadang muncul dalam benakku. Tapi ketiga hal tersebut, secara sadar atau tidak sadar menimbulkan gap tersendiri antara bangsa Asia dan bangsa kulit putih. Kemudian kadang aku bepikir,,pantas saja Jepang dulu sangat memusuhi AS. Bagaimana tidak, suatu ketika ketika aku mengikuti induction day di kelas,,bisa dibilang hanya aku satu-satunya mahasiswa asia di kelas itu (sebenarnya ada satu lagi dari Afghanistan,,tapi dia sudah tinggal di Aussie for about 10 years jadi sudah kepengaruh Aussie banget!),,yang lain adalah mahasiswa lokal Aussie dan dari negara2 Eropa yang bahasa Inggrisnya sudah mahir nian. Gila…..gue merasa dikacangin abis!!!mereka pada ngomong sama teman2 bulenya. Di saat seperti ini, kadang aku merasa inferior sebagai bangsa Asia karena si bule-bule itu keliatan tidak memandang sama sekali. Mereka Cuma ngajak ngomong aku ketika koordinator induction day meminta peserta sharing dengan dua orang di dekatnya. Kadang aku pernah mencoba pro-aktif untuk menjadi pihak pertama yang ngajak ngobrol, tapi ternyata sangat tidak menyenangkan. Mungkin salah satunya karena bahasa. Aku menggunakan bahasa yang sangat teratur sedangkan mereka menjawab secara malas-malasan dengan bahasa yang kadang tidak lengkap. Tapi,, ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena aku juga punya teman Singapura yang dia juga sudah jago bahasa slang dan ternyata memang dia juga tidak bisa begitu akrab dengan para bule itu sebagaimana mereka akrab dengan komunitasnya. Hal ini membuatku berpikir,,jangan-jangan rasa superioritas kulit putih itu masih ada???!!!!

Dan ternyata, ketika ada acara orientasi asrama dimana semua penghuni asrama dikumpulkan, terjadi pengelompokan secara spontan. Entah kenapa, saya dan orang-orang dari Asia asik mengobrol sesama bangsa Asia dan bisa tertawa lepas yang seringkali tidak bisa saya lakukan ketika bersama para bule-bule itu. Di sisi lain, bangsa-bangsa kulit putih mengelompok sendiri dan bercakap-cakap di antara sesamanya. Kemudian aku baru menyadari bahwa ternyata menyatukan perbedaan itu memang tidak mudah. Mungkin hanya bangsa Afrika, Amerika Latin dan India yang bisa cukup dekat dengan bangsa kulit putih itu. “Tapi kami, bangsa Asia adalah bangsa yang bermartabat tinggi. Kami adalah bangsa yang mampu berkompetisi dan bukan bangsa pemalas ataupun bangsa yang hanya suka pesta pora. Kami adalah bangsa pencipta peradaban dan penggerak peradaban dunia…..” entahlah kadang kalimat itu muncul dalam hatiku…kawan,,

Meski demikian, pikiranku selalu memikirkan hal lain. Pikiranku selalu mencoba mengarahkan bahwa semua ini hanyalah masa-masa awal adapatasi terhadap segala sesuatu yang baru. Semua membutuhkan proses yang memakan waktu. Ya,,,aku berharap semua ini adalah rangkaian proses..aku berharap perbedaan itu tidak menjadikan alasan untuk fell out, karena ketika segala sesuatu dinilai dari perbedaan dan perbedaan itu dipermasalahkan, maka perdamaian tidak akan pernah bisa dicapai. Karena perdamaian hanya bisa dicapai melalui pemahaman…