Kisah Hidup di Negeri Seberang

Kisah Hidup di Negeri Seberang….(1)

Perth, 21 Februari 2009

Tidak mudah hidup di negeri orang, kawan! Apalagi kalau negeri tersebut jauh

berbeda dari negeri asal kita. Aku harap apa yang kurasakan dan kupikirkan ini hanyalah suatu proses adjustment atas segala sesuatu yang baru. Hidup di negeri Kanguru ini, benar-benar berbeda dengan hidup di tanah air tercinta, Indonesia! Terlalu banyak perbedaan yang ada, meskipun masih bisa ditemui beberapa persamaan. Aku tidak begitu paham apa yang sedang kualami saat ini. Hampir 2 minggu di Australia aku belum tahu pasti perasaanku terhadap negeri ini. Entahlah, kadang aku merasa sangat antusias dan menikmati hidup disini dengan teman-teman baru, tapi kadang aku merasa muak dengan keadaan disini dan merindukan segala sesuatu yang ada di homeland (termasuk kalian kawan!! He..he..).

Beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Aussie yang ada dalam diriku hanyalah rasa menggebu-gebu untuk segera menikmati kehidupan di negeri Kevin Rudd ini. Tujuannya sangat jelas untuk membuka cakrawala sambil menelusuri dunia. Namun, beberapa jam menjelang penerbangan pesawat yang akan kutumpangi justru muncul rasa grogi dalam diri ini. Cemas akankah ada kejutan-kejutan besar di negeri nan kaya ini. Begitu pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Internasional Sydney, perasaan cemas itu musnah. Saat itu antusiasmeku untuk menelusuri negeri ini bangkit lagi. Di Sydney, aku tinggal di Pensionne Hotel di Chinatown. Aku merasa betah menikmati atmosfer kota nan cantik jelita itu. Tidak henti-hentinya kulihati katedral dengan arsitektur menawan di dekat hotel tempatku menginap. Di Chinatown, banyak kutemukan orang-orang Asia terutama dari Cina, India dan Malaysia. Bahkan di tempat yang hanya beberapa kilometer dari pusat kota ini, kebanyakan kegiatan bisnis didominasi oleh bangsa Asia terutama Cina. Seusai acara orientasi beasiswa, aku langsung terbang menuju Perth.

Sesampai di Perth, beberapa perbedaan besar mulai kutemukan dan kurasakan. Kalau di Sydney banyak sekali kerumunanan orang mondar mandir berjalan di kota, di Perth dapat dikatakan cukup sepi. Maklum saja, daerah Western Australia yang sangat luas ini hanya ditempati oleh sekitar 1,3 juta orang. Pemandangan lain yang berbeda adalah di sini, di Perth, segala sesuatunya masih didominasi oleh bule-bule asli Australia. Melihat perbedaan ini pikiranku masih tetap positif. Aku berpikir bahwa mungkin disinilah benar-benar bisa kurasakan kehidupan Australia yang sebenarnya. Perasaan itu mulai berubah ketika aku tiba di penginapan sementara di Youth Hostel Agency (YHA) Perth. Aku menginap di tempat itu semalam karena kebetulan aku tiba di Perth malam hari, sedangkan waktu check-in di student village (tempat aku tinggal sekarang) dari pagi-sore. Setibanya di YHA, aku sudah merasakan hawa kurang nyaman. Pertama mengenai resepsionis yang kapitalis abis!! Karena kebetulan aku butuh untuk ngeprint untuk acara orientasi kampus di pagi harinya, maka aku terpaksa ngeprint di YHA. Sambil check-in kamar, aku tanya ke resepsionis “hallo, could I print something here?”. Dengan ramah, dia menjawab “y sure, your USB please.”. Kuserahkan USB-ku…eh saat dia nyolokin ke komputer dia nyeloteh “sorry,it can’t be opened here..could you please go to computer longue upstair and open your doc. there?”…karena aku butuh segera, aku bilang ‘okaay!’. Eh sial betul,,ternyata dia langsung ngeprint receipt…$2. Ternyata itu receipt buat ngenet 30 menit trus buat ngeprint satu lembar dihargai 75 sen..freak!! Jadi si resepsionis tadi Cuma pura-pura komputernya rusak, padahal sebenarnya USB kebuka pake komputer itu..sial bener! Coba kalo komputernya ga dihalangi oleh meja resepsionis!!!

Kedua mengenai roommate yang ga ramah abis. Ga tahu dia orang AS ato Aussie, tapi dari tampang dan bahasanya kayaknya orang AS. Kebetulan aku emang pesan kamarnya yang share sama 6 orang biar ngirit. Waktu aku buka pintu kamar, ternyata kamarku sudah lumayan penuh. Ada banyak barang para backpacker cuma aku ga tahu tempat tidur mereka dimana soalnya berantakan banget. Nah, karena waktu itu cuma ada bule tua yang ga ramah itu, aku tanya dia sambil menunjuk salah satu tempat tidur yang kelihatannya masih kosong ‘excuse me, is it occupied?’. Ga sopan banget dia jawab pake bahasa ga genah yang ga bisa kutirukan dengan utuh,,,,tapi intinya dia jawab dengan sedikit ngomel yang kurang lebih kalo di-Indonesiakan menjadi ‘liat aja sendiri!! Kalo ga ada barangnya ya berarti ga ditempati, kalo ada ya berarti ditempati. Ganggu saja!’ . terus dia langsung keluar kamar sambil men’jebleskan’ pintu….FREAK!!!!! gila, udah capek2 dari Sydney ke Perth selama kurang lebih 6 jam, ketemu sama resepsionis kapitalis,,,eh masih ketemu sama bule sialan itu….uuuuuggghhh…..

Akhirnya keesokan harinya aku buru-buru aja check-out dari penginapan itu…waktu aku check-out bule sialan itu masih tertidur pules..pengen banget guwe jitak kepalanya yang botak biar dia tau rasa!!!!ato guwe tendang pake jurus taekwondo-nya sabeum Isa….!!!!

Alhamdulillah rasa penat di penginapan itu terobati dengan jemputan dari ECU (Edith Cowan University) Student Village yang tepat waktu, orang yang jemput juga ramah nian…mobilnya juga nyaman tenan…..asik deh pokoknya. Kalo bule yang satu ini..nyambung kalo diajak ngobrol and tau etika gitu deh…he..he…O iya,,sebelumnya biar kujelaskan dulu student village itu apa kawan…biar kalian ga blo’on-blo’on amat baca cerita ini…..hua..ha…ha..ha…

Bagi mahasiswa yang belajar di Aussie, ada tiga pilihan umum untuk akomodasi, yaitu: 1) tinggal di hostfamily yaitu tinggal sama keluarga asli Aussie,,,biasanya harga sewanya mencapai $230-300 per minggu; 2) tinggal di luar kampus (off-campus housing) kalo di Indonesia kayak kos-kos an. Biayanya bervariasi, bisa lebih murah dari on-campus housing bisa juga lebih mahal. Biasanya antara $110-300 per minggu; 3) on-campus housing (student village)..nah ini kayak asrama kampus..biasanya rata2 sekarang $140 per minggu…kebanyakan orang Indo di Perth pilih tinggal di tempat sanak keluarga ato nge-kos bareng sama orang Indo lainnya…ato kadang ngontrak..nah pilihanku tinggal di student village..karena aku pikir di student village aku bisa berinteraksi banyak dengan para mahasiswa lokal dan internasional towards global peace..he..he..

Waktu sampai di student village, aku langsung diantar ke house-ku dan private roomku (untuk diketahui, di Aussie tidak diizinkan kalo sekamar dihuni oleh lebih dari 1 orang…wah berarti kalo PPSDMS di Aussie ga diizinkan ni….??!!!). Waktu aku sampai di house-ku ada dua perempuan bule dengan ramah menyambutku…yang satu dari Aussie dan satunya lagi dari AS. Mereka kelihatan sudah mulai akrab satu sama lain. Eh, ternyata mereka house-mateku…jadi ternyata dalam satu rumah dihuni oleh cowok dan cewek (ini tidak tertera di brosurnya….jadi awalnya kukira 1 rumah co semua ato ce semua seperti biasanya),,untuk house-ku dihuni oleh 3cowok dan 3cewek. O ya,, housemateku yang lain 2 cowok dari Swedia sama Malaysia dan 1 cewek dari Thailand. Pertama kali di house-ku aku merasa nyaman…karena housemates ku ramah2…apalagi yang cewek dari Aussie dan AS, mereka sering bantu. Karena aku datang telat, aku blum dapat bantal, sprei, selimut, dsb. Cewek dari Aussie bergegas minjemin punya temannya yang nganggur buatku. Waktu aku butuh ngecek email buat liat kapan beasiswaku turun, cewek yang dari AS minjemin aku laptop buat internet. Housemates ku lainnya juga baik-baik. Tapi, beberapa kesulitan kadang kudahadapi kawan….ok, ada tiga hal utama. Yaitu bahasa (slang), lifestyle dan sikap.

Meskipun aku bisa nyambung kalo ngomong2 sama anak-anak Aussie ato dari negara native speakers lainnya di student village,,,,tetap saja seringkali aku ga paham banyak hal. Bahasa yang kupelajari di bangku sekolah di Indonesia tidak lain adalah bahasa untuk kuliah saja,,karena pada kenyataannya para pemuda disini menggunakan bahasa2 gaul dengan pengucapannya yang sangat cepat…secepat kilat..(lebai…) sehingga seringkali aku tak paham. Jadi kadang, saat teman Aussie sudah ketemu temannya…aku seakan-akan dikacangin…..menyedihkan!!

Perbedaan lainnya adalah lifestyle….terus terang aku masih sulit adaptasi untuk hal ini. Kebanyakan orang-orang Aussie, AS, Eropa (pokkonya yang bule-bule) pada suka party. Hampir tiap malam party. Apalagi waktu valentine…gila!!aku tersiksa abis…party ampe jam 2 pagi,,,,karena pada dasarnya aku emang ga suka party,,,aku Cuma nongol sesekali iseng-iseng ngobrol terus ngibrit ke private room. Ternyata, bukan Cuma aku…karena kalo kuperhatikan ternyata orang-orang dari Cina, Jepang, Singapura dan bangsa Asia lainnya di student village lebih suka tidur lebih awal dan bangun lebih awal daripada party ga genah.

Mengenai sikap….ini yang seringkali membuatku tidak nyaman. Meskipun di asrama sudah lumayan sering ngobrol dan bertegur sapa, tapi ketika ketemu di kampus ato di jalan,,orang2 kulit putih itu terkesan cuek abis..bahkan ketika diberi senyuman sekalipun…seakan-akan mereka belum mengenalku. Hal ini ternyata juga dialami oleh teman-teman dari negera Asia lainnya.

Aku tidak tahu apa yang kadang muncul dalam benakku. Tapi ketiga hal tersebut, secara sadar atau tidak sadar menimbulkan gap tersendiri antara bangsa Asia dan bangsa kulit putih. Kemudian kadang aku bepikir,,pantas saja Jepang dulu sangat memusuhi AS. Bagaimana tidak, suatu ketika ketika aku mengikuti induction day di kelas,,bisa dibilang hanya aku satu-satunya mahasiswa asia di kelas itu (sebenarnya ada satu lagi dari Afghanistan,,tapi dia sudah tinggal di Aussie for about 10 years jadi sudah kepengaruh Aussie banget!),,yang lain adalah mahasiswa lokal Aussie dan dari negara2 Eropa yang bahasa Inggrisnya sudah mahir nian. Gila…..gue merasa dikacangin abis!!!mereka pada ngomong sama teman2 bulenya. Di saat seperti ini, kadang aku merasa inferior sebagai bangsa Asia karena si bule-bule itu keliatan tidak memandang sama sekali. Mereka Cuma ngajak ngomong aku ketika koordinator induction day meminta peserta sharing dengan dua orang di dekatnya. Kadang aku pernah mencoba pro-aktif untuk menjadi pihak pertama yang ngajak ngobrol, tapi ternyata sangat tidak menyenangkan. Mungkin salah satunya karena bahasa. Aku menggunakan bahasa yang sangat teratur sedangkan mereka menjawab secara malas-malasan dengan bahasa yang kadang tidak lengkap. Tapi,, ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena aku juga punya teman Singapura yang dia juga sudah jago bahasa slang dan ternyata memang dia juga tidak bisa begitu akrab dengan para bule itu sebagaimana mereka akrab dengan komunitasnya. Hal ini membuatku berpikir,,jangan-jangan rasa superioritas kulit putih itu masih ada???!!!!

Dan ternyata, ketika ada acara orientasi asrama dimana semua penghuni asrama dikumpulkan, terjadi pengelompokan secara spontan. Entah kenapa, saya dan orang-orang dari Asia asik mengobrol sesama bangsa Asia dan bisa tertawa lepas yang seringkali tidak bisa saya lakukan ketika bersama para bule-bule itu. Di sisi lain, bangsa-bangsa kulit putih mengelompok sendiri dan bercakap-cakap di antara sesamanya. Kemudian aku baru menyadari bahwa ternyata menyatukan perbedaan itu memang tidak mudah. Mungkin hanya bangsa Afrika, Amerika Latin dan India yang bisa cukup dekat dengan bangsa kulit putih itu. “Tapi kami, bangsa Asia adalah bangsa yang bermartabat tinggi. Kami adalah bangsa yang mampu berkompetisi dan bukan bangsa pemalas ataupun bangsa yang hanya suka pesta pora. Kami adalah bangsa pencipta peradaban dan penggerak peradaban dunia…..” entahlah kadang kalimat itu muncul dalam hatiku…kawan,,

Meski demikian, pikiranku selalu memikirkan hal lain. Pikiranku selalu mencoba mengarahkan bahwa semua ini hanyalah masa-masa awal adapatasi terhadap segala sesuatu yang baru. Semua membutuhkan proses yang memakan waktu. Ya,,,aku berharap semua ini adalah rangkaian proses..aku berharap perbedaan itu tidak menjadikan alasan untuk fell out, karena ketika segala sesuatu dinilai dari perbedaan dan perbedaan itu dipermasalahkan, maka perdamaian tidak akan pernah bisa dicapai. Karena perdamaian hanya bisa dicapai melalui pemahaman…


Advertisements

16 comments

  1. hai..

    senang sekali membaca sharing n pemikiran kamu yg memperluas wawasan n sharing kmu ini juga berguna buat persiapan mental bagi yg mau ke aussie supaya ga kaget wkt mengalami kejadian serupa…

    mgkn memang susah menyatukan perbedaan..
    jangankan dengan orang bule, gerombolan teman2 indo aku yg kerja di singapur, yg negara asia tetangga kita, juga ngerasain perasaan “berbeda” itu sehingga alhasil mayoritas nyari pasangan hdp org indo jg.. jarang yg jadian ama org lokal sono..walaupun bkn nya ga ada sih..

    salam kenal

  2. halo diana,

    salam kenal juga,
    thanks atas commentnya..
    iya, diakui atau tidak perbedaan itu tetap masih menjadi kendala..ha..ha….;p
    bagaimana kita menyikapinya akan menentukan besar ato kecilnya kendala itu….

  3. Hi,

    yah sebenarnya tinggal di perth ga parah2 amat daripada tinggal di darwin, lol. gw ada tinggal sama 1 orang aussie sih, tapi dia ini kebetulan tipe yg pengertian. jd mau bantuin kalo gw ada inggris yg kurang ngeh. trus masalah temen, sebenarnya ga juga loh bule temen ma bule. selama gw sekolah di curtin, banyak jg orang asia yg temen ma bule dan bahkan inggris nya udah ky native lengkap dengan logat WA yg kental. Walaupun banyak yg begitu karena lahir di sini. tapi ada juga yg mmg karena mereka bener2 mau belajar bahasa inggris.

    masalah party, yah mmg mo gimana lagi? budaya bule sini suka nya nge drunk. udah gen kali yah? dan parahnya kalo sudah nge drunk, suka teriak2 n ga taw adat gt. yah, kalo di indo mungkin sudah dibakar rame2, hahaha.

    kalo menurut gw sendiri, gw bener2 pgn ke sydney ato melbourne. lebi banyak orang asia lebi rame n enak. ga kerasan di perth sini, terlalu sepi dan mayoritas bule smua.

    • hey hans,

      terimakasih comment-nya. mmm iya, memang ada juga bule yang ramah dan baek hati. mungkin kurang beruntung aj yak sy waktu itu ketemunya ma bule2 yang cuek ;p.
      btw, di curtin belajar apa? S1 ato S2.

  4. Hai..

    Seneng deh aku baca ceritanya.. And kbetulan aku ada planning tahun dpn kul di Perth n di ECU jg!
    Tp koq stelah baca sharingmu aku smpat gugup+bingung yah? Ga kbayang nnt nya gmn klo mmg aku jd kesana?
    Kmu ambil jurusan ap? Truz kmu smpe kapn kul disana? Klo skr ini udh mulai trbiasa kan?

    Semangat yah kul nya! 🙂

    • hey olive….

      nice comment 😉
      no need to worry,,itu perasaanku pas di awal2 wae. soal aku sebelumny di sydney dan udah ngerasa nyaman di sana, trus ke perth yg jauh beda ma sydney…
      kebetulan aku cuma 1 semester doang di sana, program pertukaran. aku ambil Communications and Arts soal emang itu yang paling bagus di ECU, ga bakal nyesel kok. sekarang dah balek ke UGM lagi sibuk skripsi and KKN..pengen banget bisa balek lagi Australia, ke perth juga…kangen!!!!
      kamu disana ambil undergrad ato grad?
      o ya, kalo bisa coba ikut komunitas ato organisasi yang kamu minati biar bisa expand your horizon.

      SEMANGAT and keep in touch!

  5. Hlo…
    Sy 2 bulan lagi rencana ke perth & living there for 1 year
    baca cerita mu jd agak nervous jg nih, apalagi sy kurang fasih english..

    • halo nico……

      stay coooool……
      yang penting jangan pernah mau berhenti untuk belajar =)
      tulisan ini juga saya tulis waktu awal2 nyampe perth, jadi memang masih dalam proses adaptasi. yang saya rasakan waktu itu adalah SHOCK berat, soal sebelumnya di sydney dan banyak yang ngomong kalo di perth orang2nya lebih ramah, tapi kenyataan di hari2 pertama di sana ternyata sangat berbeda dengan bayangan.

      tapi sebulan-an di sana sudah mulai terbiasa dan mulai menemukan bahwa perth emang sangat menyenangkan, baik orang maupun kotanya =)

      btw, dalam rangka apa ke perth?
      sukses yak…

      regards,
      khoirul

    • halo eva,,nice to hear from you
      aku sekarang sudah di indo, anyway kamu aussie nya di mana? kalo mau aku bisa kasih kontak temenku di sana biar ga kesepian.hehe….
      kalo mau, email aja yak ke khoirul_amin@live.com ato fb. biar ntar kukasih kontaknya =)

      cheers,

  6. asyik banget nih baca all sharingx selama di perth,…keinginan kesana semakin menggebu-gebu nih,..aku rencana mau ke curtin,…semoga klo aku ke sana,..dapet teman dan pengalaman yang mengasyikkan,…

    • hei hei…halo hadjeni…..iya, pupuk terus semangatnya. Curtin enak kok uni nya, kalo ga salah ada CISWA (Center for International Students in WA) kok di sana, sering ngadain program2 salah satunya tur di WA…nah manfaatin aja tu komunitas2 kayak gitu 😉

  7. Halo mas khoirul… Mohon infonya dunk soal penginapan yg dikelola org indo/Asia di perth. Bln ini aq dinas k sana Dan hrs stay 21 hr di perth. Ato ada org yg bs aq kontak utk Cari info ttg akomodasi yg ok di perth tp dg budget yg Ga mahal? Tks

  8. Jadi deg*an nih abiz bc crtamu hehee …
    Ak jg ada rencana mo k aussie tp di sydney nya , karna tmn ak rata* di sanaaa … tapi mksi buat sharing nya , jd bisa kuatin mental hehehe
    Skr msih di aussie ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s