Politik Kantor

civilwar-850x476Belakangan ini saya sibuk dengan pekerjaan paruh waktu saya sebagai asisten proyek di salah satu pusat studi di universitas tempat saya belajar saat ini. Singkat kata saya harus melakukan apa saja mulai dari melakukan riset tentang UKM di sini sampai memasang banner di tempat pelatihan. Di saat yang sama saya juga harus mengejar disertasi. Saya tidak mengeluhkan kesibukan tersebut, tetapi ada satu rekan kerja yang membuat saya jengkel. Sebut saja namanya Z, dari salah satu negara berkembang di belahan dunia lain.
Jadi si Z ini jarang sekali kelihatan di tempat kerja, dia lebih sering mengerjakan pekerjaannya di luar kantor. Kebetulan kantor kami memang memberikan kebebasan kapan dan di mana kami bisa bekerja, yang penting adalah hasilnya. Beberapa waktu lalu saya, dua rekan kerja yang lain dan si Z bertemu dengan manajer kantor membahas tentang apa saja yang akan kami lakukan menjelang selesainya proyek di bulan ini. Saya dan dua rekan kerja yang lain menjelaskan apa saja yang sudah kami lakukan dan apa saja yang akan kami lakukan. Kemudian si Z berbicara panjang lebar tentang apa yang akan ia lakukan. Manajer kantor kemudian mengapresiasi idenya tersebut dan berharap bisa melihat hasilnya. Minggu ini sudah sekitar dua minggu berlalu setelah pertemuan tersebut. Saya dan dua rekan kerja yang lain pun sudah mulai melakukan apa yang kami rencanakan. Kemudian tiada angin tiada hujan dua hari yang lalu si Z  e-mail saya menanyakan apa ada yang bisa dibantu dan mengajak untuk berdiskusi ide yang día sampaikan sebelumnya yang memang bersinggungan dengan kerja saya. Saya menjawab apa saja yang sudah saya kerjakan dan membagi draf kerjaan saya dan menawarkan dia untuk menambahi beberapa hal yang dia rasa perlu untuk pekerjaan dia. Saya juga mengajaknya untuk ambil data bersama di lapangan karena dari ide yang dia sampaikan sebelumnya dia menyebutkan membutuhkan data di lapangan. Kemudian dia malah menjawab kalau dia tidak butuh ke lapangan dan dia memberikan beberapa usulan untuk draf kerjaan saya. Saya pun balas dengan ucapan basa-basi terimakasih sebelumnya dan saya tegaskan kalau saya hanya akan mengerjakan bagian tugas saya dan tidak akan memasukkan usulan poin dia karena itu bagian dari ide kerjaan yang dia sampaikan di pertemuan dengan manajer sebelumnya, bukan ide saya.
Tidak berhenti di situ, tiba-tiba siang kemarin di saat kepala saya panas mengerjakan disertasi ada e-mail masuk. Saya pun cek e-mail tersebut dan ternyata dari si Z dan di-cc ke atasan saya. Isi dari e-mailnya kurang lebih mengatakan bahwa dia senang membantu saya dan mengusulkan saya untuk menambah beberapa poin di draf pekerjaan saya, yang sebenarnya poin itu adalah ide yang ia janjikan untuk ia laksanakan. Saya pun tidak habis pikir apa maksud si Z ini, apalagi dia pakai cc ke atasan. Mungkin maksud dia adalah untuk cari muka, entahlah. Hari ini atasan saya membalas e-mail tersebut dan menyampaikan bahwa dia mendukung ide si Z. Si Z ini memang bekerja lebih duluan dari saya di tempat kerja kami dan dia cukup dekat dengan atasan. Kesabaran saya pun habis dan saya segera respon email tersebut dan saya katakan apa saja yang sudah disepakati dari awal. Saya juga menyampaikan apa saja ide si Z yang dia sampaikan saat pertemuan dengan manajer beberapa waktu lalu. Atasan saya pun merespon e-mail saya dan mengucapkan terimakasih dan mengatakan bahwa ia sekarang paham situasinya. Rencananya saya akan menkonfrontasi si Z saat saya bertemu di kantor minggu depån.

Sekian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s